Laman

Selasa, 04 Oktober 2011

KEMANUSIAAN - MORALITAS YANG TERANCAM PUNAH

Waw, judul artikel yg tragis sekali..
Tapi memang begitu adanya :')
Ya, itulah yg saya rasakan mengenai kemanusiaan sekarang ini, di bumi ini pada umumnya (walaupun saya belum pernah ke luar negeri) dan Indonesia khususnya.
Generasi sekarang (umur belasan sampai 20an khususnya) minim sekali yang peduli dengan sesamanya. Bahkan saya yakin sekali, 75% dari mereka bahkan tidak tau dengan istilah Food Not Bombs, tidak tau siapa itu Tukijo (Kulon Progo), tidak peduli dengan anak kecil yg ngamen di lampu merah, memandang rendah waria & PSK, dan hal miris lainnya; mungkin lebih. Tapi hal ini juga tidak menutup kemungkinan bagi mereka yg sudah berumur 20an lebih.
Seperti seorang bapak sekuriti di kisah saya berikut ini.
Begini ceritanya (ga pake lolongan serigala ya :p):

Waktu itu (1 Oktober 2011 malam) malam minggu, 2 orang temanku datang berkunjung. Baiknya mereka membawa pesananku yg sedang penat sesudah bekerja; sekantong plastik ciu (Y) :D
Sekitar tengah malam, sewaktu kami sedang asik minum, tiba-tiba ada orang mengendarai motor terjatuh di jalan raya; saya kira tabarakan.
Lalu kami pun menghampiri orang tersebut. Ternyata benar kata temanku, dia jatuh sendiri. Orang tersebut (sebut saja si korban) tengkurap tak bergerak di atas motornya. Kami panik! Kami pikir dia meninggal.
Namun ternyata dia bergerak.. huft.
Kami lalu memindahkannya dari pinggir jalan ke teras ruko tempat kami minum tadi. Darah kental terus mengalir dari mulutnya. Giginya habis; rontok, dan sepertinya tersangkut di tenggorokannya! Ternyata si korban dalam keadaan mabuk.
Kemudian saya pun memanggil sekuriti yg posnya tidak begitu jauh dari tempat saya berada meminta bantuan. Benar membantu (?)
Dengan mulut penuh darah, dalam keadaan mabuk dan menahan sakit yg amat sangat (sepertinya dada si korban terbentur aspal / kemudi motor dengan keras), si korban menjawab pertanyaan2 kami seputar identitasnya. Ternyata si korban tinggal tidak begitu jauh dari sana.
Setelah itu sekuriti bertanya pada kami mengenai kronologis kejadian. Kami jawab apa adanya. Lalu, beliau mengatakan: "Aturan ga usah dibawa kemari..." What a stupid statement dari seorang 'aparat'; dari seorang manusia !!?
Kami pun berdebat dengan bapak ini mengenai perkataanya barusan. Saya berkata: "Trus nunggu orang lewat nolongin dia? Kalo ada yg mau. Atau biarin dia kelindes mobil mungkin!?" Teman saya menambahkan: "Kucing aja ditabrak langsung dikubur, ini orang dibiarin aja gitu!!?" Sekuriti hanya bisa diam.
Lalu pak sekuriti itu memanggil temannya dan sekaligus menelpon pospol meminta bantuan.
Sekuriti ke-2 kemudian pergi ke daerah tempat tinggal korban; berdasarkan info dari korban tadi, mencoba mencari kerabat korban.
Tidak lama kemudian datang lah seorang polisi, disusul sekuriti ke-2 bersama kerabat korban.
Lalu si korban pun dibawa kerabat-kerabatnya dengan mobil guna mendapatkan pertolongan pertama.
Sekuriti lain dan warga yg sebelumnya berkumpul pun mulai bubar.
Sebelum pergi, sekuriti yg berargumen sampah tadi mengajak kami berbincang sedikit, membahas argumennya tadi. Dia berusaha menjelaskan: "Waktu itu juga pernah ada yg tabrakan, kami pindahin ke ruko. Trus polisi dateng, nanyain identitas yg tabrakan, tapi karena ga ada.... bla bla bla"
Yaa, sekuriti itu mengeluarkan alasan-alasan yg ga masuk akal. Bukan berbicara bagi saya, bergumam labih tepatnya..

Hmm, kesimpulan saya:
  1. Si sekuriti enggan (malas) bertanggung-jawab terhadap pekerjaanya.
  2. Si sekuriti gugup (bahkan mungkin) takut berurusan dengan polisi.
  3. Si sekuriti minim nilai kemanusiaan.
  4. Jangan berkendaraan dalam keadaan mabuk.
Kalau memang keadaan memaksa kita harus berkendara dalam keadaan mabuk, persetan lah! Hidup ini penuh dengan pilihan, tergantung (inisiatif) kita saja :)
Sedikit saran, cuci muka dgn air dingin, konsumsi makanan/minuman yg rasanya asem/masam. Atau take a rest lah sampai merasa sedikit lebih sadar.
Think twice isn't enough, think smart :)

Kita (manusia), makhluk sosial. Kita tidak akan bisa hidup tanpa orang-lain.
Tenaga dan waktu (bahkan materi) kita layak kita buang untuk membantu sesama..
Kita tidak hidup sendiri.

Sebut saya sampah masyarakat. Sebut saya berandal. Sebut saya terserah anda.
Tapi, saya punya (sedikit) rasa kemanusiaan.
I'm proud to be me dxD

Tidak ada komentar:

Posting Komentar