Laman

Tampilkan postingan dengan label sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sosial. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Desember 2011

HUJAN - Antara Sukacita dan Derita

Hujan, sudah pasti penilaian orang berbeda-beda akan hal ini.
Senang, gundah, kesal, aaaaahh kompleks sekali.

Ga sedikit orang yang bahagia dengan turunnya hujan, bahkan sangat mengharapkannya.
Para petani dan semua masyarakat yang sedang mengalami musim kemarau adalah contohnya.
Namun disaat hujan turun, terlebih lagi khususnya saat musim hujan, dimana hujan terus menerus turun dalam intensitas yg cukup tinggi, kerap kali membuat sebagian masyarakat hidup dalam ketakutan.
Warga Jakarta, khususnya yang tinggal di sekitar bantaran kali adalah mereka yang bisa dibilang 'takut' dengan hujan, karena banjir menimpa tempat tinggal mereka itu sudah pasti.
Sudah rahasia umum, faktor utama penyebab masalah itu adalah buruknya kinerja pemerintah yang terkait untuk mencegah dan menanggulanginya. Ulah manusia yang kerap membuang sampah sembarangan di kali juga faktor penyebab lainnya.
Ya emang sih, faktor yg lebih utama dibanding kinerja buruk pemerintah yang emang buruk (hehe) adalah imbas dari kemajuan teknologi. Ozon yang berlubang dan makin tipis karna efek rumah kaca, asap kendaraan dan pabrik membuat iklim berubah dan ga nentu.

Tapi yang ingin saya bahas di sini bukan masalah itu, karena sudah rahasia umum. Dengan kata lain, masyarakat luas pun juga sudah sadar akan hal itu.

Ojek Payung
Kemarin-kemarin, waktu gua di Terminal Kampung Rambutan saat hujan, adalah kali pertama gua ngelihat "Ojek Payung" lagi setelah ± 1 tahun ga ngeliat mereka (jarang pergi-pergi sih :P).
Iya, mereka yang bawa-bawa payung sambil menggigil trus nawarin "Bu payung bu.. Mas payung mas.." yang banyak kita jumpai di terminal / pasar / lampu merah tiap hujan.
Sebuah profesi yang pengen banget gua coba waktu kecil, tapi ga pernah gua lakuin karena gua udah terbiasa hidup nyaman dan dibesarkan dengan manja.. haha
Mereka nawarin jasa menyewakan payung mereka untuk orang lain biar ga kehujanan sampai tempat tujuan / tempat untuk sekedar berteduh, sementara mereka kehujanan.
Seinget gua waktu gua kecil dulu jasa mereka dihargai Rp. 500 sampe Rp. 1.000.. Mungkin sekarang antara Rp. 1.000 sampe Rp. 2.000.
Secara ga langsung hujan pasti disambut sukacita oleh para pengojek payung, karena mereka bisa mengais rezeki dari hujan yang turun.
Saya rasa pasti ada orang yang berpikiran pendapatan pengojek payung pasti besar. Sama halnya dengan penilaian sebagian masyarakat terhadap pengemis, yang didukung banyak berita mengenai rumah beberapa pengemis di Jakarta, yang berada di daerah Jawa, yang rumahnya bisa dibilang mapan.

Kalau pun emang bener pengemis atau pengojek payung itu pendapatannya besar, trus kenapa?
Semua pekerjaan ada resikonya.
Pengemis, yang menurut saya pribadi syukur-syukur bisa makan nasi sekali dalam sehari, resikonya malu! Pengemis di jalan / lampu merah, resikonya malu + sakit karena lingkungan sekitar yg penuh polusi.
Begitu pula dengan pengojek payung.
Sementara ga sedikit orang yg gembira dengan turunnya hujan seperti yang saya tuliskan di SINI, pengojek payung hujan-hujanan mencari beberapa ribu rupiah.
Saya rasa wajar misalkan seorang pengojek payung bisa mengantongi Rp. 50.000 dalam sejam, dengan hanya berjalan kaki mengikuti orang yang menyewa payung sampai tempat tujuan / tempat meneduh.
Tapi sebelum kita iri, ada baiknya kita pikirkan dulu, seberapa kuat kita harus menahan dingin dan menggigil untuk mendapatkan Rp. 50.000 tersebut? Terlebih jika kita adalah seorang anak berusia dibawah 17 tahun, seperti kebanyakan pengojek payung pada umumnya.

Sekian dan terima teh hangat :)
Baca Selengkapnya

Senin, 31 Oktober 2011

SUMPAH PEMUDA - Diskriminasi Gender :O

Sebenernya sih inti dari maksud saya nulis artikel ini a-dalaaaah... tet toret torreeeett
"Sumpah Pemuda(?) PENTING GITU!?" :D

Nama si Sumpah
Kenapa namanya 'Sumpah Pemuda' ???
Apakah pemudi ga dianggep???
Gua emang jelas blon lahir waktu tuh jaman, apalagi pas jamannya RA Kartini masih eksis di dunia ini. Tapi menurut wikipedia; salah 1 sumber yg seringkali ku percaya (kurang lebih seperti manusia yg percaya pada agamanya masing-masing); Sumpah Pemuda diproklamirkan pada tanggal 28 Oktober 1928. Dan RA Kartini, 'feminist' Indonesia yg fenomenal, pelopor emansipasi wanita di Indonesia, lahir 21 April 1879 dan meninggal pada tanggal 17 September 1904.
Jelas sekali bahwa emansipasi wanita 'tidak digubris' saat beberapa oknum sedang duduk dalam rapat menyusun Sumpah Pemuda ini. Yes? yesss
Ya, pastilah patriotis akan memberikan tanggapan "Apalah arti sebuah nama"
Dengan lapang dada saya akan menjawab "Saya rasa kalau diganti menjadi Sumpah Demi Apapun para pemuda-pemudi sangat setuju" Yes? yesss

Isi dari Sumpah
Pertama: Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. 
mungkinkah itu sebab banyaknya darah yang tumpah di tanah ini??
Kedua: Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
tidak heran ada saja generasi muda yang rasis, fanatik! anti bule bahkan anti 'pendatang'. pribumi holic eh??
Ketiga: Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
ada yang bisa menjelaskan kenapa sampai tingkat SMA atau bahkan perguruan tinggi ada mata pelajaran / mata kuliah 'Bahasa Indonesia' ??
ada yang bisa memberitahu saya 'freemason' mana yg menyebarkan "elo-gue-end" di kalangan anak muda negeri ini??
ada ga?? ada-ada aja.. ada kaleee :P

Kesimpulan
- Gausah sok-sokan ngomong "Selamat Hari Sumpah Pemuda" bagi kalian yg menganggap tulisan saya ini masuk akal. apa itu akal?
- Sumpah Pemuda menurut saya lebih tepat dikategorikan sebagai visi & misi (saya sendiri gatau bedanya visi & misi) masyarakat Indonesia dulu, yang diharapkan pada masyarakat Indonesia selanjutnya dan seterusnya, dibandingkan anggapan sebagai 'momentum pergerakan nasional'. 
- Sumpah Pemuda hanya sampah yang tetap dan selalu dikenang dan dihargai oleh masyarakat Indonesia pada jaman ini. how luck you Sumpah Pemuda! proletar isn't luck as you!!
- Artikel ini saya tulis sebagai pemuda yg terlahir di Indonesia. Artikel ini saya tulis atas keinginan saya, karna emang inilah yg saya rasain dan karna ini blog saya :P
Baca Selengkapnya

Selasa, 04 Oktober 2011

HARGAI SESAMA MU - APPRECIATE THE MINORITY PEOPLE, PLEASE !!!!!!


kaum minoritas: GELANDANGAN, WARIA, perempuan malam yang seringkali kita sebut PELACUR, dan lain sebagainya, BUKANLAH SAMPAH yang harus dibersihkan, BUKANLAH PENYAKIT yang harus disembuhkan, BUKANLAH PENJAHAT yang harus ditangkap, dan juga BUKANLAH VIRUS yang harus di-steril-kan !!!!!
MEREKA seperti itu BUKAN DENGAN SENGAJA, tapi karena KEADAAN YANG MEMAKSA !!!!
seharusnya PEMERINTAH LEBIH TANGGAP memberantas BAJINGAN-BAJINGAN NEGARA yang menggerogoti negara ini dari dalam tubuh pemerintahan sendiri, bukan hanya 'memberantas' masalah sosial seperti kaum minoritas tsb yg tak akan pernah habis sejalan dengan politik ..
oleh karena itu, HARGAILAH SESAMAMU !!!!
MEREKA (KAUM MINORITAS), JUGA MANUSIA DAN WARGA NEGARA, SAMA SEPERTI ANDA !!!!!
Baca Selengkapnya

KEMANUSIAAN - MORALITAS YANG TERANCAM PUNAH

Waw, judul artikel yg tragis sekali..
Tapi memang begitu adanya :')
Ya, itulah yg saya rasakan mengenai kemanusiaan sekarang ini, di bumi ini pada umumnya (walaupun saya belum pernah ke luar negeri) dan Indonesia khususnya.
Generasi sekarang (umur belasan sampai 20an khususnya) minim sekali yang peduli dengan sesamanya. Bahkan saya yakin sekali, 75% dari mereka bahkan tidak tau dengan istilah Food Not Bombs, tidak tau siapa itu Tukijo (Kulon Progo), tidak peduli dengan anak kecil yg ngamen di lampu merah, memandang rendah waria & PSK, dan hal miris lainnya; mungkin lebih. Tapi hal ini juga tidak menutup kemungkinan bagi mereka yg sudah berumur 20an lebih.
Seperti seorang bapak sekuriti di kisah saya berikut ini.
Begini ceritanya (ga pake lolongan serigala ya :p):

Waktu itu (1 Oktober 2011 malam) malam minggu, 2 orang temanku datang berkunjung. Baiknya mereka membawa pesananku yg sedang penat sesudah bekerja; sekantong plastik ciu (Y) :D
Sekitar tengah malam, sewaktu kami sedang asik minum, tiba-tiba ada orang mengendarai motor terjatuh di jalan raya; saya kira tabarakan.
Lalu kami pun menghampiri orang tersebut. Ternyata benar kata temanku, dia jatuh sendiri. Orang tersebut (sebut saja si korban) tengkurap tak bergerak di atas motornya. Kami panik! Kami pikir dia meninggal.
Namun ternyata dia bergerak.. huft.
Kami lalu memindahkannya dari pinggir jalan ke teras ruko tempat kami minum tadi. Darah kental terus mengalir dari mulutnya. Giginya habis; rontok, dan sepertinya tersangkut di tenggorokannya! Ternyata si korban dalam keadaan mabuk.
Kemudian saya pun memanggil sekuriti yg posnya tidak begitu jauh dari tempat saya berada meminta bantuan. Benar membantu (?)
Dengan mulut penuh darah, dalam keadaan mabuk dan menahan sakit yg amat sangat (sepertinya dada si korban terbentur aspal / kemudi motor dengan keras), si korban menjawab pertanyaan2 kami seputar identitasnya. Ternyata si korban tinggal tidak begitu jauh dari sana.
Setelah itu sekuriti bertanya pada kami mengenai kronologis kejadian. Kami jawab apa adanya. Lalu, beliau mengatakan: "Aturan ga usah dibawa kemari..." What a stupid statement dari seorang 'aparat'; dari seorang manusia !!?
Kami pun berdebat dengan bapak ini mengenai perkataanya barusan. Saya berkata: "Trus nunggu orang lewat nolongin dia? Kalo ada yg mau. Atau biarin dia kelindes mobil mungkin!?" Teman saya menambahkan: "Kucing aja ditabrak langsung dikubur, ini orang dibiarin aja gitu!!?" Sekuriti hanya bisa diam.
Lalu pak sekuriti itu memanggil temannya dan sekaligus menelpon pospol meminta bantuan.
Sekuriti ke-2 kemudian pergi ke daerah tempat tinggal korban; berdasarkan info dari korban tadi, mencoba mencari kerabat korban.
Tidak lama kemudian datang lah seorang polisi, disusul sekuriti ke-2 bersama kerabat korban.
Lalu si korban pun dibawa kerabat-kerabatnya dengan mobil guna mendapatkan pertolongan pertama.
Sekuriti lain dan warga yg sebelumnya berkumpul pun mulai bubar.
Sebelum pergi, sekuriti yg berargumen sampah tadi mengajak kami berbincang sedikit, membahas argumennya tadi. Dia berusaha menjelaskan: "Waktu itu juga pernah ada yg tabrakan, kami pindahin ke ruko. Trus polisi dateng, nanyain identitas yg tabrakan, tapi karena ga ada.... bla bla bla"
Yaa, sekuriti itu mengeluarkan alasan-alasan yg ga masuk akal. Bukan berbicara bagi saya, bergumam labih tepatnya..

Hmm, kesimpulan saya:
  1. Si sekuriti enggan (malas) bertanggung-jawab terhadap pekerjaanya.
  2. Si sekuriti gugup (bahkan mungkin) takut berurusan dengan polisi.
  3. Si sekuriti minim nilai kemanusiaan.
  4. Jangan berkendaraan dalam keadaan mabuk.
Kalau memang keadaan memaksa kita harus berkendara dalam keadaan mabuk, persetan lah! Hidup ini penuh dengan pilihan, tergantung (inisiatif) kita saja :)
Sedikit saran, cuci muka dgn air dingin, konsumsi makanan/minuman yg rasanya asem/masam. Atau take a rest lah sampai merasa sedikit lebih sadar.
Think twice isn't enough, think smart :)

Kita (manusia), makhluk sosial. Kita tidak akan bisa hidup tanpa orang-lain.
Tenaga dan waktu (bahkan materi) kita layak kita buang untuk membantu sesama..
Kita tidak hidup sendiri.

Sebut saya sampah masyarakat. Sebut saya berandal. Sebut saya terserah anda.
Tapi, saya punya (sedikit) rasa kemanusiaan.
I'm proud to be me dxD
Baca Selengkapnya