Itulah yg terpikirkan oleh saya setiap kali saya melihat gambar di atas; begitu pula yg terpikirkan oleh saya terhadap jaman ini. Terhadap anak muda bangsa ini khususnya.
Bagaimana tidak, dengan bangganya mereka kongkow dan makan di cafe2 yg saat ini sedang merebak di negara ini. Tanpa peduli sementara banyak orang yg mati kelaparan di luar sana! Tanpa peduli banyak anak kekurangan gizi di negeri ini!!
Memang hak mereka, uang mereka, apa urusan saya!?
Memang saya bukan anggota dari sebuah organisasi / otonomus Food Not Bombs (FNB).
Saya awam, tapi bukan bermaksud sok tahu berbicara tentang FNB. Saya hanya berbagi sedikit kegalauan saya :')
Karena makanan adalah hak semua orang bukan hak istimewa segelintir orang saja!
Karena ada cukup makanan untuk semua orang dimana-mana!
Karena kekurangan bahan makanan pokok bohong!
Karena disaat kita lapar atau kedinginan kita punya hak untuk mendapatkan apa yang kita inginkan dengan cara meminta, mengamen, atau menempati bangunan-bangunan kosong!
Karena kapitalisme menjadikan makanan sebagai sumber keuntungan, bukan sebagai sumber nutrisi!
Karena makanan tumbuh pada tanaman!
Karena kita butuh lingkungan bukan kendali!
Karena kita butuh rumah bukan penjara!
Karena kita butuh makanan bukan bom!
Di twitter, seringkali orang (kebanyakan remaja) yg dengan bangganya mengatakan kalau dia (dan teman-temannya) sedang di / baru dari 7eleven, mc'donalds, starbucks dll dalam tweet-nya. Bahkan tidak sedikit yang mengabadikan momen tersebut dengan berfoto-ria dan di share di berbagai jejaring sosial.
Gaul, gengsi, itu lah yg ada di benak mereka. Kenapa saya berani men-judge pikiran mereka seperti itu? Karena saya juga pernah (masih :p) muda!!
Di sisi lain, @InjusticeFacts dalam tweetnya: A $4 Starbucks cup of coffee can buy 1200 cups of drinking water for children with no access to sanitized water. :"(
Jujur, setiap kali makan saya usahakan untuk tidak menyisakan 1 butir pun nasi!! Hak anda percaya atau tidak :)
Dan dalam hati pun saya sedih; mungkin lebih tepat malu (terhadap diri saya sendiri), sewaktu saya membuang nasi kering akibat terlalu lama panas di dalam rice cooker. Rasa malu itu pun makin menguat semenjak saya membaca tweets @StarvingChild yg muncul di timeline saya :"((
Yang lebih membuat miris perasaan saya, beberapa orang yg saya kenal (walaupun mereka belum tentu mengenal saya) yg 'mengaku' mengusung FNB sendiri tidak jarang 'mampir' ke cafe / restoran. Kalau sekali 2 kali yowes lah, kalau hobi (!?).
Sedikit info yang saya ketahui tentang organisasi / otonomus FNB di Indonesia.
Bandung: Food Not Bombs Bandung bisa juga cek yang ini
Jakarta: Food Not Bombs Jakarta
Nb: Bila ada tambahan info, saya akan update artikel saya ini seputar info mengenai FNB movement di daerah-daerah Indonesia :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar